Monday, March 25, 2013


DENSUS 88 Mabes Polri
Detasemen Khusus 88 atau disingkat dengan Densus 88, merupakan Satuan Pasukan Khusus dari Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menangggulangi masalah Tindakan Terorisme di Indonesia. Pasukan Khusus milik Kepolisian ini dilatih secara khusus tentang penaggulangan tindak kejahatan berkadar tinggi menggunakan senjata api dan bahan peledak termasuk ancaman teror yang dilakukan oleh organisasi terkoordinir sparatis hingga membahayakan keamanan dan ketertiban di masyarakat, terutama masalah tindakan terorisme di Indonesia. Para anggota dari pasukan ini sebagian diambil dari Satuan 1 Gegana Korps Brimob Polri.
Detasemen Khusus 88 dirancang sebagai Pasukan Anti Teroris yang memiliki kemampuan mengatasi segala macam bentuk teror dari ancaman peledakan bom, hingga penyandraan yang dilakukan oleh jaringan teroris terorganisir. Densus 88 merupakan Pasukan Khusus dibawah Kepolisian Negara republic Indonesia. Densus 88 yang berada di Pusat/Mabes Polri berkekuatan hingga 400 Personel terdiri dari berbagai macam keahlian seperti Ahli Investigasi, Ahli Penjinak Bom, Penembak Jitu serta Satuan pemukul bereaksi cepat hingga sanggup melumpuhkan sasarannya. Dalam Operasionalnya yang mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, dibantu dengan Satuan yang lebih kecil di masing-masing Polda dengan kekuatan personel 45-75 anggota tergantung dari kebutuhan wilayah Polda yang bersangkutan. Fungsi Detasemen Khusus 88 tingkat Polda adalah memeriksa laporan aktifitas teror di daerah dan melakukan penangkapan kepada personel atau seseorang maupun sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris hingga keberadaannya dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara R.I.

a. Sejarah Pembentukannya
Awal terbentuknya Detasemen Khusus 88 dilatar belakangi maraknya aksi-aksi terorisme dengan menggunakan bahan peledak alias bom yang dilakukan oleh jaringan terorganisir di Indonesia dalam kurun waktu 2000-2005. Walaupun pada masa itu sudah ada pasukan anti terror yang dimiliki oleh Polri yaitu Gegana, namun karena benban tugas Gegana terlau kompleks sehingga jumlah pesonelnya dirasa kurang maksimal menindak masalah terorisme yang kian marak. Setelah terbentuknya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2002, dimana pata tanggal 4 April 2003 Perpu ini telah disyahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dalam rangka membasmi Masalah Tindakan Kejahatan Terorisme di Indonesia, maka Kepolisian Negara Republik Indonesia perlu membentuk Pasukan Khusus Anti Teror yang bertugas secara khusus membasmi melalui pengejaran dan penangkapan kepada para pelaku tindak kejahatan masalah terorisme di Indonesia. Akhirnya Detasemen 88 ini diresmikan oleh KaPolda Metro Jaya Inspektur Jendral Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004 dengan anggota awalnya berjumlah 75 personel dan sebagai komandannya pada awaktu itu adalah Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian. Pendirian Detasemen Khusus 88 ini mengacu pada Skep : KaPolri No. 30/ VI/ 2003. Pasukan ini mempunyai kemampuan lebih, karena dilatih langsung oleh Instruktur FBI, CIA dan US. Secret Service melalui kerjasama bagian jasa Keamanan Diplomatik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Indonesia dalam rangka memerangi terorisme international yang sudahmenjadi kesepakatan dunia.
Seiring dengan tugas Detasemen Khusus 88 ini makin meluas, maka Detasemen ini ditarik ke Mabes Polri hingga mempunyai anggota sekitar 400 personel. Dalam Operasionalnya yang mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, dibantu dengan Satuan yang lebih kecil di masing-masing Polda dengan kekuatan personel 45-75 anggota tergantung dari kebutuhan wilayah Polda yang bersangkutan. Fungsi Detasemen Khusus 88 tingkat Polda adalah memeriksa laporan aktifitas teror di daerah dan melakukan penangkapan kepada personel atau seseorang maupun sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris hingga keberadaannya dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

b. Logo Kesatuan


Detasemen Khusus 88 Mabes Polri ini memakai logo bergambar seekor Brung Hantu, dimana Burung Hantu ini mempunyai makna bahwa burung ini mempunyai keistimewaan disbanding dengan burung lainnya. Burung Hantu mempunyai bentuk kepala yang datar dengan dua matanya menghadap kedepan layaknya wajah manusia. Burung Hantu adalah tergolong binatang pemangsa atau burung predator.
Mata yang terletak didepan dengan wajah datar itu memberikan pandangan secara menyeluruh dan menyatu terhadap obyek yang ada disekitarnya. Burung ini mempunyai kemampuan penglihatan secara binokuler yaitu mampu melihat dengan kedua matanya secara bersamaan. Bola matanya yang terlihat bulat menandakan penglihatan yang tajam meskipun dalam kondisi malam hari dengan suasana yang begitu samar-samar sekalipun. Burung ini juga mampu memutar kepalanya dengan sudut 270 derajat sehingga mampu melihat suasana disekelilingnya yaitu ke arah depan, samping kiri kanan dan belakang. Burung Hantu juga dilengkapi sistem pendengaran yang sangat baik melalui telinga dengan didukung wajah lebar berfungsi sebagai radar mampu mendengar buruan tingkus sejauh 500 meter. Lebih dari itu burung ini juga dibekali dengan konstuksi sayap yang kokoh serta cakar tajamnya hingga mampu terbang tanpa bersuara dan menerkan buannya dengan cengkeramannya hingga tak berkutik lagi.
Karakter yang dimiliki oleh Burung Hantu inilah akhirnya menjadi filosofi dari Detasemen Khusus 88 Mabes Polri sebagai Pasukan Anti Teror. Melalui penglihatannya bagai burung hantu, Pasukan ini mampu melihat seluruh situasi masalah gangguan tindakan terorisme yang ada di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam waktu 24 jam pagi, sing dan malam hari. Pasukan ini akan memburu dan menangkap buruannya setiap waktu dengan cara menyusup diam-diam tak bersuara dimana para teroris bersembunyi hingga tak berkutik lagi bergerak dengan leluasa dalam rangka mengacaukan keamanan negara. Sementara teks Detasemen Khusus – Anti Teror, melambangkan bahwa pasukan ini adalah terbatas anggotanya dan mempunyai keahlian khusus dalam memburu dan menangkap pelaku tindakan terorisme di Indonesia hingga menciptakan makna anti teror.
Sementara angka 88 melambangkan suatu borgol bahwa musuh yang menjadi sasaran adalah berbahaya oleh karena itu perlu diikat dengan menggunakanborgol supaya tidak bisa berkutik lagi. Pengertian lain juga menggambarkan angaka 8 merupakan angka yang nyambung tak terputus dalam visualisasinya, hal ini memberikan gambaran bahwa Pasukan Khusus Densus 88 Mabes Polri ini dalam memburu para terorisme di Indonesia juga tak terputus dari waktu dan situasi yang terjadi. Pengertian 88 juga berarti Anti Teror Act dengan disingkat menjadi ATA, jika dilafalkan dalam bahasa Inggris akan berbunyi Ei Ti Ekt dan pelafalan ini menjadi terdengar seperti Eighty Eight atau dengan angka 88. Kalangan masyarakat juga ada yang menginterpretasikan angka 88 adalah jumlah korban Bom Bali dari Negara Australia.

c. Tugas Pokok
Detasemen Khusus 88 Mabes Polri adalah sebagai salah satu unsur pelaksana utama di jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki tugas berdasarkan perintah KaPolri membina dan mengerahkan kekuatan satuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadartinggi khususnya kejahatan terorganisir yang mempergunakan senjata api, bahan peledak dan bom yang dilakukan oleh kelompok terorisme dalam skala nasional maupun skala international. Pasukan Khusus ini mempunyai tugas dan kewenangan untuk memburu dan menangkap para pelaku Tindak Terorisme di Indonesia atau di Negara lain dimana pelakunya adalah Warga Negara Indonesia melalui konsulat diplomatik di Negara yang bersangkutan.




* Detasemen Khusus 88 Mabes Polri dengan segala kekuatan yang ada di dalam dirinya akan terus memburu, menyergap dan menangkap para teroris bersama jaringannya yang merusaha mengacaukan keamanan dan ketertiban masyarakat hingga menimbulkan kecemasan di masyarakat *

d. Keanggotaan
Detasemen Khusus 88 Mabes Polri adalah bagian dari jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia dimana para anggotanya tidak sebanyak anggota dari Korps Brimob, Anggota-anggotanya bisa diambil dari anggota Korps Brimob yang telah lulus seleksi. Anggota yang telah lulus ini kemudian harus mengikuti pendidikan secara khusus tentang masalah terorisme dan istimewahnya, kesatuan ini mendapat pelatihan lebih, karena dilatih langsung oleh Instruktur FBI, CIA dan US. Secret Service melalui kerjasama bagian jasa Keamanan Diplomatik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Indonesia dalam rangka memerangi terorisme international yang sudah menjadi kesepakatan dunia.




* Anggota Detasemen Khusus 88 Mabes Polri akan terus menempah diri dalam latihan-latihan terpadu guna pengaplikasian teknologi yang terus berkembang agar terlatih dalam tugas penyergapan berikutnya yang selalu menantang setiap waktu tindakan terorisme tanpa pandang bulu siapa korbannya *

e. Senjata Yang Digunakan
Karena kesatuan ini berhadapan dengan pengacau-pengacau masalah keamanan dan ketertiban yang mempunyai kadar tinggi, maka pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan standard militer seperti persenjataan yang digunakan oleh Korps Brimob. Senjata yang paling umum digunakan adalah Jenis AR-15 dengan berbagai varian, Senapan Sebu SS1, Steyr AUG, HK MP5 dan Pistol





* Senjata yang digunakan oleh para pasukan Detasemen Khusus 88 Mabes Polri adalah senjata standard militer, karena musuh yang dihadapi adalah musuh berkadar tinggi dan senjata ini sering dipakai oleh korps Brimob Polri seperti Mp4, AR-15, HK MP5, Steyr AUG dan Pistol FN *

f. Kendaraan Operasi
Dalam melaksanakan operasional tugas Pasukan ini dilengkapi kendaraan khusus sebagai alat angkut pasukan untuk melaksanakan tugas operasi berdasarkan target sasaran tergantung dari kondisi dan situasi dilapangan. Kendaraan tersebut seperti pesawat berbadan lebar sebagai alat angkut pasukan dengan target operasi tergolong jarak jauh, mobil khusus angkut pasukan di wilayah daratan bahkan sampai wilayah perairan.




* Berbagai macam pendukung dalam rangka mobilisasi pasukan di lokasi operasi sangat diperlukan baik lewat udara dengan menggunakan pesawat Hercules maupun lewat darat dengan menggunakan mobil patroli atau lewat laut dengan penggunakan kapal motor kesemuanya itu tergantung kondisi dan situasi dari target yang diburu *

g. Kepala Satuan dan Kepangkatan
Secara struktur organisasi Detasemen Khusus 88 Mabes Polri berada dalam naungan Mabesl Polri, oleh karena itu dalam operasionalnya Kepala Detasemen Khusus 88 mendapat perintah dan bertanggung jawab langsung pada Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau KaPolri. Kepangkatan  Kepala Detasemen Khusus 88 Mabes Polri berpangkat Brigadir Jendral Polisi (Brigjen. Pol) dengan simbol kepangkatan bintang satu dalam Militer/TNI Brigadir Jendral). Sementara atasannya adalah Kepala Kepolisian Negara republik Indonesia ( KaPolri) yang memerintah dan menerima pertanggung jawabannya adalah berpangkat  Jendral Polisi ((Jendral.Pol) dengan simbol kepangkatan bintang empat (dalam Militer/ Jendral). Detasemen Khusus 88 di tingkat Polda berpangkat Komisaris Polisis (KomPol) dengan simbol kepangkatan melati satu Dalam Militer/TNI Mayor) . Sementara Kepala Detasemen Khusus 88 yang memerintah dan menerima pertanggung jawabanya adalah berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes. Pol) dengan simbol kepangkatan melati tiga (dalam militer/TNI Kolonel) dan sebagai atasanya adalah KaPolda berpangkat Inspektur Jengral (Irjrn.Pol) dengan simbol kepangkatan bintang dua.

h. Markas Komando
Markas komando Detasemen 88 Mabes Polri berada di sebuah komplek areal di Mega Mendung Puncak Bogor Jawa Barat.

sejarah perang vietnam


Perang Vietnam, juga disebut Perang Indochina Kedua, adalah sebuah perang yang terjadi antara 1957 dan 1975 di Vietnam.

Dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan USSR dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis.

Perang ini mengakibatkan eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain, terutamanya Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Barat lainnya, sehingga di negara-negara tersebut bisa ditemukan komunitas Vietnam yang cukup besar.

Setalah berakhirnya perang ini, kedua Vietnam tersebut pun bersatu pada tahun 1976.

Vietnam dijajah oleh Tiongkok sejak tahun 110 SM sampai mencapai kemerdekaan pada tahun 938. Setelah bebas dari belenggu penjajahan Tiongkok, Vietnam tidak berhenti menentang serangan pihak asing.

Pada abad ke-19, Vietnam menjadi wilayah jajahan Perancis. Perancis menguasai Vietnam setelah melakukan beberapa perang kolonial di Indochina mulai dari tahun 1840-an. Ekspansi kekuasaan Perancis disebabkan keinginan untuk menyaingi kebangkitan Britania Raya dan kebutuhan untuk mendapatkan hasil bumi seperti rempah-rempah untuk menggerakkan industri di Perancis untuk menyaingi penguasaan industri Britania Raya.

Semasa pemerintahan Perancis, golongan rakyat Vietnam dibakar semangat nasionalisme dan ingin kemerdekaan dari Perancis. Beberapa pemberontakan dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok nasionalis, tetapi usaha mereka gagal. Pada tahun 1919, semasa Perjanjian Versailles dirundingkan, Ho Chi Minh meminta untuk bersama-sama membuat perundingan agar Vietnam dapat merdeka. Permintaannya ditolak dan Vietnam dan seluruh Indochina terus menjadi jajahan Perancis.

Kelompok Viet Minh akhirnya mendapat dukungan populer dan berhasil mengusir Perancis dari Vietnam.Selama Perang Dunia II, Vietnam dikuasai oleh Jepang. Pemerintah Perancis Vichy bekerjasama dengan Jepang yang mengantar tentara ke Indochina sebagai pasukan yang berkuasa secara de facto di kawasan tersebut. Pemerintah Perancis Vichy tetap menjalankan pemerintahan seperti biasa sampai tahun 1944 ketika Perancis Vichy jatuh setelah tentara sekutu menaklukan Perancis dan jendral Charles de Gaulle diangkat sebagai pemimpin Perancis.

Setelah pemerintah Perancis Vichy tumbang, pemerintah Jepang menggalakkan kebangkitan pergerakan nasionalis di kalangan rakyat Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Vietnam diberikan kemerdekaan oleh pihak Jepang. Ho Chí Minh kembali ke Vietnam untuk membebaskan negaranya agar tidak dijajah oleh kekuasaan asing. Ia menerima bantuan kelompok OSS (yang akan berubah menjadi CIA nantinya).

Pada akhir Perang Dunia II, pergerakan Viet Minh di bawah pimpinan Ho Chí Minh berhasil membebaskan Vietnam dari tangan penjajah, tetapi keberhasilan itu hanya untuk masa yang singkat saja. Pihak Jepang menangkap pemerintah Perancis dan memberikan Vietnam satu bentuk “kemerdekaan” sebagai sebagian dari rancangan Jepang untuk "membebaskan" bumi Asia dari penjajahan barat. Banyak bangunan diserahkan kepada kelompok-kelompok nasionalis.

Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan 
Reply With Quote
Old 16th September 2008, 11:01
#2  
Mania Member
shiyilang is offline

shiyilang's Avatar

Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,739
shiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a star

Default

Perang Vietnam

Pada tanggal 2 September 1945 di Hanoi, Ho Chi Minh secara umum mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam.Ketika para komunis di Vietnam Selatan Viet Minh mengikutsertakan pemerintahan kolonial Perancis pada perang gerilya, bermula tepat setelah deklarasi kemerdekaan tersebut, Ho Chi Minh, pada posisinya sebagai pemimpin pergerakkan kemerdekaan di Vietnam Utara, memutuskan untuk bernegosiasi dengan Perancis. Alasannya adalah : pada waktu itu lebih dari 180.000 pasukan nasionalis Cina di Vietnam Utara; Viet Minh di Vietnam Utara merasa secara simultan liberalisasi mereka untuk melawan kekuatan dari kolonial Perancis dan pasukan Cina.

Pada tahun 1946, setelah Perancis membangun kembali pemerintahan kolonial mereka di Vietnam, para nasionalis Cina setuju diberlakukannya kembali pasukan Cina dari Vietnam. Hal ini telah terjadi, Viet Minh menambah serangan mereka terhadap kekuatan kolonial Perancis dan memasangnya juga di bagian Selatan dan Utara Vietnam. Ketika Perancis berhasil dalam menahan kota dibawah kekuasaan mereka, peraturan di daerah pedalaman makin bertambah karena Viet Minh.

20 November 1953, kekuatan kolonial Perancis menempatkan sebanyak 16.000 pasukannya di Bien Phu, yaitu sebuah lembah pegunungan di sepanjang perbatasan Vietnam Utara dan Laos Utara. Dari Dien Bien Phu, Perancis bermaksud untuk mengawasi daerah perbatasan di antara kedua negara. Hal ini dianggap perlu karena Viet Minh melakukan pergerakan komunis dilengkapi dengan persenjataan di Laos, Pathet Lao.

Militer Perancis percaya bahwa Lembah Dien Bien Phu yang memiliki panjang 19 kilometer dan lebar 13 kilometer, aman dari serangan Viet Minh. Namun pada minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya, pasukan Vietnam dibawah pimpinan Jenderal Giap, menyiapkan penyerangan ke Dien Bien Phu. Dengan bantuan lebih dari 200.000 orang kuli pengangkut barang, Viet Minh mengatur pengangkutan artileri berat ke gunung-gunung yang mengelilingi lembah Dien Bien Phu.

Pada bulan Maret 1954, Viet Minh memulai penyerangan mereka terhadap pasukan Perancis di Dien Bien Phu. Pada tanggal 7 Mei 1954, mereka berhasil menaklukan pusat komando Perancis. 9.500 anggota pasukan kolonial Perancis ditangkap. Ini merupakan kekalahan paling buruk dalam sejarah pasukan kolonial Perancis.

Lebih dari 20.000 orang Viet Minh dan lebih dari 3.000 orang Perancis terbunuh dalam pertempuran di Dien Bien Phu. Perang antara Viet Minh dengan Perancis yang berlangsung selama sembilan tahun, telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Lebih dari satu juta warga sipil, 200.000 hingga 300.000 orang Viet Minh dan lebih dari 95.000 anggota pasukan kolonial Perancis telah kehilangan nyawanya.

Pada tanggal 20 Juli 1954 di Jenewa, negosiator Viet Minh dan Perancis setuju membagi Vietnam menjadi dua negara bagian : komunis Vietnam Utara dan kapitalis Vietnam Selatan.

Pada tahun 1959-1963, setelah gerilya komunis Vietnam Selatan dapat menjatuhkan pemerintahan Diem, pemerintahan komunis Vietnam Utara mengendalikan jalannya konfrontasi militer. Lebih dari 40.000 gerilya Vietnam Utara masuk ke wilayah selatan, dan memberikan persenjataan dan amunisi kepada komunis Vietnam Selatan, yang dibawa melalui jalan-jalan kecil Ho Chi Minh di wilayah Laos dan Kamboja.

Pada tahun 1961, presiden AS yang baru dipilih, Kennedy, mengirimkan 100 penasihat militernya yang pertama bersama dengan satu unit khusus dengan 400 tentara ke Vietnam. Pada tahun berikutnya, AS menambah jumlah pasukannya di Vietnam menjadi 11.000 tentara.

Pada tanggal 2 Agustus 1964, dua kapal pesiar Amerika di tembaki oleh kapal-kapal patroli Vietnam Utara di Teluk Tonkin. Amerika bersikeras bahwa kapal-kapal pesiar itu berada di perairan internasional. Dan menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk membom Vietnam Utara untuk pertama kalinya. Hanya saja pada tahun 1971, diketahui bahwa dua kapal perang Amerika telah melanggar daerah perairan Vietnam Utara.

AS invasi Vietnam


Pada bulan Maret 1965, pesawat tempur AS memulai Operation Rolling Thunder, pemboman besar-besaran terhadap Vietnam Utara. Sekitar tiga setengah tahun kemudian, bom-bom dijatuhkan di sekitar Vietnam Utara yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari jumlah bom yang dijatuhkan pada Perang Dunia II.

Untuk mengurangi pembangunan industri dan penduduk negara, Vietnam Utara memberlakukan desentralisasi total ekonomi dan evakuasi sejumlah orang dari kota-kota.

Puncak Perang Vietnam pada tahun 1968, yaitu saat AS mengirimkan hampir setengah juta tentaranya ke Vietnam. Pasukan Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Filipina dan Thailand semuanya berjumlah 90.000 orang. Dan saat itu tentara Vietnam Selatan berjumlah 1,5 juta orang.

Front Pembebasan Nasional di bawah kepemimpinan komunis, yang diberi nama Vietkong oleh AS, memiliki kekuatan 400.000 pasukan.

Perbedaan kuantitas dan kualitas militer yang jauh menguntungkan Vietanam selatan dan AS tidak melemahkan semangat juang tentara vietnam utara yang jauh lebih sedikit dan ketinggalan teknologi militernya. Kemenangan atas perancis sebelumnya meyakinkan pasukan vietnam utara bahwa semangat pantang menyerah dan strategi yang tepat serta dukungan rakyat akan mampu menghadapi sekuat apapun musuh yang dihadapi.


Pada tanggal 1 Februari 1968, kekuatan Tentara Pembebasan Nasional/VietKong memulai serangan Tet ke 105 kota-kota di Vietnam Selatan. Walaupun Vietkong berhasil dipukul mundur dan mengalami kekalahan (kecuali di Hué), serangan Tet ini merupakan saat yang menentukan dalam Perang Vietnam.

Serangan Tet mengakibatkan perubahan sikap AS. Setelah serangan Tet, pemerintahan AS tidak tertarik lagi ingin memenangkan perang. Tapi mereka hanya tidak ingin kehilangan reputasinya sebagai kekuatan militer terhebat.

Melalui operasi militer AS, angkatan udara AS melakukan pengeboman ke wilayah Vietnam Utara, dan berakhir pada Oktober 1968. AS mulai menarik kembali pasukan-pasukannya dari Vietnam.

Tahun 1969 di Paris, AS, Vietnam Selatan, Vietnam Utara dan Vietkong melakukan negosiasi untuk menarik seluruh pasukan AS dari Vietnam.

Pada tahun 1972, sebelum negosiasi Paris membawa hasil, AS telah mengurangi pasukannya sebesar 100.000 orang dari Vietnam.

Tanggal 30 Maret 1972, terjadi serangan komunis, tapi bukan oleh Vietkong melainkan oleh pasukan Vietnam Utara yang melewati garis demarkasi (17 derajat garis lintang utara) melanggar wilayah Vietnam Selatan. Pengeboman yang dilakukan secara terus-menerus oleh pesawat tempur AS, telah menyebabkan mundurnya pasukan Vietnam Utara.

Pada tanggal 27 Januari 1973, persetujuan gencatan senjata ditandatangani di Paris dan mulai diberlakukan sejak hari itu. Pada bulan Maret 1973, pasukan terakhir Amerika, meninggalkan Vietnam.

Dua tahun kemudian, Vietnam Utara dan kekuatan komunis Selatan memulai serangan dengan maksud untuk menguasai negara Vietnam Selatan. Beberapa minggu kemudian, tepatnya tanggal 30 April 1975, pasukan Vietnam Utara memenangkan keseluruhan perang dan menduduki Saigon dan mengakibatkan berakhirnya perang yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun.

Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan 
Reply With Quote
Old 16th September 2008, 11:06
#3  
Mania Member
shiyilang is offline

shiyilang's Avatar

Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,739
shiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a star

Default Perang Vietnam Masih Menghantui Amerika

PERANG VIETNAM MASIH MENGHANTUI AMERIKA

Pada pertengahan tahun 1960an selagi tentara Amerika bertempur di Vietnam, Presiden Lyndon Johnson menjalani operasi kandung kemih. Operasi itu meninggalkan bekas luka yang panjang. Tidak lama setelah itu, para kartunis politik menggambarkan luka bekas operasi itu sebagai peta Vietnam. Karena perang Vietnam yang kacau, Presiden Johnson akhirnya tidak mau mencalonkan diri kembali dalam pemilihan presiden tahun 1968. Sampai sekarang, Perang Vietnam masih menjadi bekas luka dalam jiwa rakyat Amerika, seperti yang diungkapkan kedua calon presiden Amerika bulan lalu.

Calon Presiden Partai Demokrat Senator John Kerry menyatakan diri sebagai pahlawan perang dengan mengelilingi dirinya dengan para veteran perang Vietnam. Beberapa pekan kemudian, sekelompok veteran Vietnam lain menyerang John Kerry, dengan mengatakan, Kerry berbohong mengenai kegagahberaniannya dalam perang. Pihak Partai Republik kemudian mengecam John Kerry karena memimpin protes menentang Perang Vietnam sekembalinya dari medan perang. Pekan lalu, Wakil Presiden Dick Cheney menyebutnya sebagai salah satu alasan mengapa John Kerry tidak layak menjadi presiden. Banyak tuduhan terhadap John Kerry disanggah oleh kelompok veteran Vietnam lain, yang membela John Kerry mati matian.

Terdengar aneh bahwa kampanye pemilihan presiden terfokus pada isu Perang Vietnam, sementara banyak isu lain seperti Perang Irak, perekonomian, lapangan kerja, layanan kesehatan dan defisit anggaran. Semua isu tersebut tersisih oleh Perang Vietnam yang telah berakhir 29 tahun yang lalu.

Keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam adalah yang paling lama dan paling tidak populer dalam sejarah Amerika. Ketika Perang Vietnam berakhir pada tahun 1975, hampir 58 ribu orang tentara Amerika dan sekitar tiga juta orang warga Vietnam tewas.

Setelah perang berakhir, warga Amerika bertanya-tanya, mengapa mereka menemui kekalahan.

Banyak yang merasa bahwa Amerika seharusnya tidak melancarkan perang itu. Mereka berpendapat, rakyat Vietnam menjadi korban putusan dan kebijakan Amerika yang keliru. Yang lain berpendapat, perang Vietnam tidak dilakukan dengan cukup kuat.

Selama seperempat abad terakhir, perdebatan tingkat rendah berlangsung antara mereka yang ikut perang di Vietnam dan yang tidak, antara yang berpendapat bahwa Perang Vietnam dapat dibenarkan dan yang menganggapnya sebagai misi keliru yang mustahil dilaksanakan.

Banyak veteran Perang Vietnam masih menderita sampai sekarang. Banyak di antara mereka yang terekspos pada Agent Orange, bahan kimia perontok daun, yang membuat mereka sakit. Sekitar 240 ribu orang veteran perang, sebagian besar dari Vietnam, menjadi tunawisma. Vietnam sendiri masih menderita dari sisa sisa perang. 35 persen lahan pertanian di Vietnam Tengah tidak dapat ditanami karena sisa sisa mesiu yang belum meledak. Lebih dari satu juta hektar hutan dan lahan pertanian menjadi tandus karena Agent Orange. Banyak warga Vietnam yang juga menderita karena bahan kimia itu.

Karena Perang Vietnam, Amerika dijuluki sebagai ‘macan kertas’. Ini sering disebut sebagai ‘Sindrom Vietnam’, yaitu keengganan untuk maju ke medan tempur. Apakah perdebatan antara John Kerry dan George W Bush mengenai Perang Vietnam berarti bahwa secara kejiwaan warga Amerika berkeberatan mengirim prajurit ke medan perang? Ternyata tidak. John Kerry memberikan suara setuju dalam pemungutan suara Senat mengenai perang Irak yang diprakarsai Presiden Bush. Jelas bahwa keduanya tidak berpendapat bahwa Amerika adalah ‘macan kertas’.

Perdebatan antara Bush dan Kerry mengenai Vietnam terfokus pada satu isu sempit, yaitu karakter John Kerry: Apakah ia seseorang yang memang gagah berani di medan perang, atau ia hanya melebih lebihkan prestasinya di Vietnam dengan tujuan politis?

Wartawan Associated Press belum lama ini mengunjungi wilayah di Vietnam, di mana dulu John Kerry bertugas dalam masa perang. Wartawan itu mewawancarai seorang bekas pejuang Vietnam yang belum pernah mendengar nama John Kerry. Orang itu membanggakan pertumbuhan ekonomi Vietnam sejak tahun 1975 seperti saluran saluran irigasi yang lebih lebar, tambak tambak udang, kafe, toko, pasar sayur dan pasar buah terapung dan lain lain. Ia heran mendengar timbulnya kontroversi berpuluh puluh tahun sejak berakhirnya perang Vietnam. Ia mengatakan, “Ini politik Amerika!”

Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan 
Reply With Quote
Old 16th September 2008, 11:09
#4  
Mania Member
shiyilang is offline

shiyilang's Avatar

Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,739
shiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a star

Default Serangan TET

Serangan Tet (30 Januari 1968–1969) adalah serangkaian operasi penyerangan pada masa Perang Vietnam, yang dikoordinasi antara unsur-unsur kekuatan batalyon Pasukan Bersenjata Pembebasan Rakyat (PLAF) atau "Viet Cong" dari Front Nasional untuk Pembebasan Vietnam dan unsur-unsur kekuatan divisi dari Tentara Rakyat Vietnam (PAVN), dari Vietnam Utara melawan Tentara Republik Vietnam (ARVN) dari Vietnam Selatan ditambah militer AS dan pasukan-pasukan sekutu ARVN lainnya. Operasi ini disebut Serangan Tet karena waktunya bertepatan dengan malam 30 Januari - 31 Januari 1968, Tết Nguyên Đán (Tahun Baru Imlek). Serangan itu dimulai secara spektakular pada perayaan Tahun Baru Imlek, dan operasi-operasi sporadik yang terkait berlangsung hingga 1969.

Serangan Tet ini menghasilkan serangan operasional yang menghancurkan bagi pemerintah Vietnam, melumpuhkan PLAF. Namun, meskipun keliru, Serangan Tet ini dianggap sebagai titik balik dari perang di Vietnam; di sini NLF dan PAVN memperoleh kemenangan psikologis dan propaganda besar-besaran sehingga menyebabkan hilangnya dukungan rakyat AS terhadap Perang Vietnam dan akhirnya pasukan-pasukan AS pun ditarik mundur.

Baik NLF maupun PAVN tidak mencapai tujuan-tujuan strategis mereka, dan ongkos operasional serangan itu sangat berbahaya dan mahal. Selain itu, sementara pendapat umum rakyat AS tetap mendukung keterlibatan AS di dalam perang itu, rakyat AS sendiri semakin kritis terhadap kebijakan-kebijakan perang tertentu Lyndon Johnson. BArangkali kelompok yang paling terpengaruhi oleh serangan ini adalah pemerintah Nguyễn Văn Thiệu di Republik Vietnam, yang militer dan politiknya mengandalkan dukungan AS sebagaimana yang diperlihatkan oleh mayoritas penduduk Republik itu sendiri.

Serangan Tet sering dipandang sebagai contoh tentang pentingnya propaganda dan pengaruh media dalam upaya mencapai tujuan-tujuan militer, sebuah ajaran penting dalam perang modern pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Dampak terhadap politik dalam negeri AS

Hari-hari setelah diterbitkannya laporan New York Times mengenai permintaan pasukan tambahan, Presiden Johnson mengalami kekalahan telak pada New Hampshire Primary Partai Demokrat AS, hanya sedikit melebihi Senator AS Eugene McCarthy. Tak lama sesudah itu, Senator Robert F. Kennedy mengumumkan bahwa ia akan ikut bertarung memperebutkan nominasi Partai Demokrat, hingga semakin menegaskan melorotna dukungan terhadap pemerintahan Johnson setelah Serangan Tet ini. Meskipun sebagian pihak menegaskan bahwa kurangnya dukungan terhadap Johnson menunjukkan bahwa publik berusaha tidak terlibat dengan Vietnam, yang lainnya mengatakan bahwa kehilangan dukungannya disebabkan karena ia tidak mau melaksanakan perang itu secara efektif. Pada 31 Maret, Johnson mengumumkan bahwa ia tidak ingin mencalonkan diri lagi, dan bahwa pengeboman terhadap Vietnam Utara dihentikan.

Pengeboman hebat oleh AS terhadap Ben Tre menghasilkan ungkapan terkenal, "kita perlu menghancurkan kota itu untuk menyelamatkannya." Namun ucapan ini tidak pernah dipastikan sumbernya.
 Pada tahun 2003, kolumnis Mona Charen dan peneliti Perang Vietnam B. G. Burkett menyimpulkan bahwa Ben Tre telah dihancurkan oleh pasukan Viet Cong yang sedang mengundurkan diri. Dan mereka menyebutkan kemungkinan bahwa Peter Arnett, seorang wartawan, sebagai sumber kutipan itu, karena tentara yang kemungkinan sekali dikutip oleh Arnett tampaknya ingat ketika ia mengatakan, "Sayang sekali kota itu dihancurkan."

Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan 
Reply With Quote
Old 16th September 2008, 11:10
#5  
Mania Member
shiyilang is offline

shiyilang's Avatar

Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,739
shiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a starshiyilang has become a star

Default

Pertempuran Khe San, langkah Ofensif mengepung posisi As di Khe San.

Pertempuran Khe Sanh terjadi antara tanggal 21 Januari hingga 8 April 1968 di masa Perang Vietnam antara pasukan Vietnam Utara (Tentara Rakyat Vietnam) melawan US Army.
Pada awal perang, markas Amerika di Khe Sanh terletak dekat dengan perbatasan Vietnam Utara dan para prajurit yang bermarkas mengirim unit secara gabungan ke perbatasan itu melawan Tentara Rakyat Vietnam dalam Pertempuran Dak To. Tahun 1967 ditandai dengan gerakan pasukan Vietnam Utara yang bertambah dramatis dari tahun 1966. Namun, komandan tinggi angkatan Amerika di Vietnam, Jenderal William Westmoreland percaya pada setiap gerakan Amerika yang membingungkan dari banyak perjuangan Viet Cong di Vietnam Selatan. Markas Amerika di Khe Sanh diserang oleh Tentara Rakyat Vietnam pada tanggal 21 Januari 1968 saat serangan Tet, serangan Vietnam Utara atas Vietnam Selatan.

Vietnam Utara awalnya menekan angkatan AS dari garis pertahanan mereka di luar markas hingga markas di mana angkatan AS terus menerus mengadakan serangan.

Di awal Februari Vietnam Utara menyerang posis Amerika di selatan Khe Sanh dan berhasil menaklukkannya dan dengan itu Khe Sanh dikepung oleh pasukan Vietnam Utara yang mengadakan serangan tiap hari di markas itu.

Vietnam Utara segera mulai mulai menembakkan banyak artileri secara besar-besaran terhadap markas agar menyerah, lebih dari 700.000 granat dari pasukan Vietnam Utara menghantam Khe Sanh. Amerika mengadakan serangan bom besar-besaran dari udara terhadap kedudukan pasukan Vietnam Utara untuk mempertahankan angkatan AS di markas itu. Di akhir Maret markas Amerika masih saja diserang oleh Vietnam Utara. Pada tanggal 1 April AS mengawali Operasi Pegasus yang memecah pengepungan Khe Sanh; operasi tersebut berhasil setelah perlawanan singkat dari pasukan Vietnam Utara yang kelelahan lalu menarik mundur.

Pertempuran Khe Sanh menjadi salah satu pertempuran berdarah dan paling diingat dari Perang Vietnam yang saat itu pers AS melaporkan situasi di Khe Sanh tiap hari.